Postingan

Puasa dan Dosa Lingkungan

              Bulan Ramdhan atau bulan puasa telah tiba. Bulan yang dinantikan oleh hampir semua umat Muslim di seluruh dunia. Ia menjadi bulan istimewa karena Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi tiap amal kebajikan. Begitu istimewanya bulan ini, disebutkan dalam kitab al Ithafu Ahlu al Islam bi Khususiyyati Syiam karya Ibnu Hajar al- Haitami al Makki, sampai-sampai Allah memerintahkan Khamalatul arsy untuk berhenti bertasbih dan memintakan ampunan bagi umat Nabi Muhammad dan orang-orang mukmin.             Puasa adalah salah satu ibadah wajib yang syarat dan ketentunya sudah diatur. Makna puasa juga berarti menahan dari segala godaan hawa nafsu.. Ia memiliki dampak yang positif salah satunya lingkungan, sebab umat islam diharapkan dapat menurunkan tingkat konsumsi makanan dan minuman menjadi signifikan. Perkiraannya kurang lebih begini, manusia tidak makan dan minum selama kurang lebih 14 jam. Kalau makanan berkurang maka volume limbah makanan juga akan berkurang. K

Amina Wahdud Muhsin: Menyoal Persepsi Wanita dalam al-Quran

  Barangkali sempat terpikirkan oleh sebagaian orang, bahwa menjadi wanita itu tak bebas atau bahkan sebuah musibah. Kemusibahan ini misalnya mengingatkan pada perkataan seorang filsuf, Plato, bahwa dirinya bersyukur karena tak terlahir menjadi seorang wanita. Pada zaman jahiliyah, bayi wanita dikubur karena dianggap menjadi sebuah aib. Bahkan dalam sebuah hadist shahih Bukhori ada hadist yang menyamakan wanita, keledai dan anjing sebagai pembatal sholat. Artinya seorang wanita dianggap akan merusak hubungan simbolis dengan Yang Ilahi, hanya karena kehadirannya. Celakanya dalam shahih Bukhori tidak dimasukan pula koreksi yang diberikan Aisyah (Istri Rasullullah) atas pokok bahasan hadist tersebut. Sehingga sampai saat ini hadist itu masih digunakan oleh kelompok-kelompok konservatif untuk merendahkan hakikat kewanitaan. Selain kehadirnnya yang disangsikan, menyamakan wanita dengan ke-benda-an dianggap sebuah kelumrahan misalnya wanita tidak berjilbab sama dengan permen tak tertutup

Terima Kasih

Aku  lega tahun 2019 sudah usai. Tahun yang bagiku adalah tahun penghabisan, duka, tangis dan kehilangan arah. Pada saat itu, kira-kira dari bulan januari hingga agustus aku memenuhi hari dengan menangis di manapun tempatnya; di jalan ketika menyetir motor, kamar mandi dan tentu saja di kamar dengan lampu yang padam. Bahkan di keramaian aku bisa menangis tanpa bersuara dan tak banyak mengeluarkan air mata. Sungguh amat dramatis sekali hidupku pada waktu itu. Aku menangis karena sejak aku lulus dari kuliah belum menemukan apa yang aku cari, pekerjaan apa yang hendak aku lakukan dan apa hal yang aku senangi. Tiap detik aku rasakan diriku menguap begitu saja. Aku merasa sudah bergelantungan sangat lama di atas tebing yang curam lalu ada angin besar datang dan menghempaskanku begitu saja ke jurang yang gelap dan dalam. Tidak ada jalan keluar dan tak kan ada pertolongan. Selama delapan bulan aku bahkan tidak menyentuh buku-bukuku sama sekali, tidak ada niatpun juga untuk memperbaharui

Membaca Buku Dengarlah Nyanyian Angin-Haruki Murakami

Buku dengarlah nyanyian angin karya Sensei Haruki Murakami merupakan salah satu buku favorite saya setelah Norwegian Wood. Saya bukan tipe orang yang betah membaca buku hingga berulang kali. Hanya buku yang bagi saya bagus, bisa terbaca lebih dari dua kali. Saya merasakan keintiman jika membaca karya murakami yang ini. Dari tokoh, latar dan alur serasa menyatu dengan diri saya. Ada rasa kebahagian yang sulit untuk dijabarkan dalam sebuah kalimat ataubahkan kata. Tokoh “Aku”, Nezumi dan beragam mantan pacar tokoh “aku” melekat dalam memoar saya. Dengarlah nyanyian angin menurut saya bercerita soal kegetiran, kehampaan dan putus asa dari tiap tokoh cerita dalam menghadapi masalah hidup. Misalnya saja tokoh Nezumi yang memiliki masalah dengan orang kaya dan seorang perempuan, lalu teman dekat tokoh “Aku” yang berjari 4, memiliki masalah keluarga yang cukup rumit serta kehidupan yang sulit. Tiap masalah tentu ada jalan keluarnya, dan angin saya gambarkan seperti itu. rasakan dan deng

Pengalaman Mengikuti Training Writing for Women Writer

Saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Asian Muslim Network Indonesia yang bertajuk Training Writing for Women Writer. Acara berlangsung selama dua hari yakni pada tanggal 7-8 Oktober di Tlekung, dengan diisi berbagai materi seperti materi mubadalah, menulis, platform media dan lain sebagainya. Hal yang menarik dari acara ini selain saya ketemu dengan penulis kocak kesukaan saya, Kalis Mardiasah, saya juga bertemu dengan Pak Faqih. Yang mana beliau memberikan pandangan baru ihwal relasi perempuan dan laki-laki. Seringkali kita pahami bahwa terori feminisme yang dicetuskan oleh para permikir barat merepresntasikan dan mewakili relasi perempuan dan laki-laki. Di mana membahas suatu entitas yang terdominasi dan yang mendominas. Terdominasi dan tertindas dan tidak terpenuhi haknya dan atau tidak setaranya ia dengan yang lain, tentu saja 'ia' yang dimaksud adalah perempuan. Teor-teori feminisme barat seringkali mengkritik/terlalu menentang laki-laki dan ingin membuat d

Raya yang Tak Cita

Jumat, tepatnya tanggal 15 Juni, datang hari perayaan kemenangan umat Islam di seluruh dunia. Lantunan takbir menalu nalu dalam masjid dengan diiringi tabuhan dari perkakas sederhana entah galon atau semcamanya. Memang, masjid yang dimiliki desaku tidak ada bedug, ia pun hanya berukuran seluas kira-kira 300 meter saja, dindingnya telah berganti hampir tiap tahunnya, sekarang bercat hijau kombinasi putih dan sekelilingnya dihiasi pagar hasil iuran jamaah masjid. Ketika datang hari raya besar macam idul fitri dan idul adha, ia tak mampu menampung banyak jamah pria dan wanita. Dan terpaksa para jamaah lain, sholat dengan menggelar tikar di luar masjid. Sebulan aku berpuasa dengan kuhabiskan di tempat perantauan yaitu Malang. Berpuasa di kota perantauan bagiku ada suka dan dukanya. Sukanya aku mungkin bisa menjelajah masjid-masjid sekitar untuk berbuka puasa dengan lauk yang macam-macam, selain itu aku bisa menghabiskan malam puasa dengan bergurau bersama kawan sejawat. Dan aku bisa

Emak: Catatan Rindu

Hari itu, jumat malam tepatnya seminggu sebelum ramadhan akan berakhir, aku sendiri di kamar kosan yang luasnya hanya 2x3 meter saja. Aku memang belum pulang ke kampung karena masih ada tugas yang belum selasai. Malam itu angin cukup dingin hingga membuat bulu kuduk ini harus diselimuti sarung yang dibawakan Imbok dari rumah. Lampu senjaga kumatikan karena aku beranjak untuk tidur. Beberapa menit kupaksa mata ini untuk memejam dalam malam yang sunyi. Kicauan burung yang tiada henti, jangkrik yang saut menyaut dengan lantunan ayat suci Quran di Surau dekat kosanku, makin membuat mata ini menyala dengan pikiran yang kalut akan kerinduan dengan kampung halamanku. Makin kucoba untuk memejam, makin terlukis bayang-bayang Emak, Bapak dan Imbok ditiap sel otakku. Pikiran ini terus melayang, menerjang bayang hitam, mencoba meraba kenangan masa kecilku yang penuh warna, sendu dan tawa. Aku, perempuan 23 tahun ini, tak pernah membayangkan akan diasuh oleh seorang Emak yang begitu