Postingan

Ara, aku bertanya.

Hari sebelumnya aku disibukan dengan membaca buku-buku teori yang buat kepalaku berdenyut dan begitu pening. Buku teori itu aku gunakan untuk menghadapi ujian seminar proposal yang makin dekat. Terkadang aku kesal, kenapa juga harus membaca buku yang sama sekali tidak aku suka. Untuk menghilangkan stress yang makin mendera, aku putuskan untuk   pergi memberli novel Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Larasati. Aku beli novel itu di sebuah tempat perbelanjaan yang begitu ramai akan muda mudi yang sekedar nongkrong, jalan-jalan atau makan di restoran cepat saji yang ada di sana. Novel itu terbilang cukup murah, tidak sampai 50.000. Sesampainya di Kosan, aku buka dengan hati gembira seperti anak kecil yang gatal membuka kado di hari natal. Pertama, aku buka plastik sampul novel   itu lantas, ku ciumi kertas novel tersebut. Yah, memang sudah menjadi kebiasanku saat membeli novel atau buku. Entah kenapa bau-nya menambah gairah untuk segera melahap halaman per halaman, kata de...

Norwegian Wood : Kehampaan dan Suka Cita

Seminggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 15 Desember aku menyelesaikan novel Haruki Murakami, Norwegian Wood judulnya. Itu adalah noverl Murakami pertama yang aku baca. Novel setebal 426 Halaman ini aku lahap kira-kira hanya dua hari saja, ya begitu cepat bila dibanding aku membaca buku-buku teori yang membuat kepalaku berdenyut. Dua hari itu aku seperti merasa terbawa pada dunia Toru Watanabe, tokoh utama dalam novel tersebut, mengalir begitu saja, menyelami hidupnya yang berliku dan bisa dibilang rumit untuk anak yang berusia 20-an. Alur cerita yang dibuat Murakami bagiku begitu realistis, absurd dan membuat si pembaca menjadi bagian dari novel tersebut; hidup sekali penggambarannya. Norwegian Wood bukan hanya sekedar novel cerita cinta, namun begitu banyak refleksi kehidupan yang diberikan.      Membaca lembar demi lembar Norwegian Wood aku secara nisbi mengingat tiga hal yakni bunuh diri, aktivis gadungan dan dia. Banyak orang mengira bunuh diri menjadi suatu ...

Opini : Ber-Islam

Berislam, apa sebenarnya makna berislam? Ber- dalam KBBI bermakna sesuatu melakukan, adupun Islam, secara akar kata dalam Bahasa Arab mempunyai artis sebagai ketundukan, pemyerahan diri, keselamatan, dan kedamaian, sehingga makna berislam dapat kita artikan yakni melakukan seseuatu atau beraktivas sebagai bentuk ketundukan untuk mencapai kedamaian, yang mana itu berarti tidak lebih sekedar sebuah ritual belaka. Akan tetapi, berislam seringkali dikontasikan dengan hal ihwal yang berurusan dengan Ilahiyah, Tuhan, Allah—hablluminallah saja atau melakukan kegiatan akhirat, semisal berpuasa, sholat, mengaji, dan lain sebagainya—sebagian masyarakat kita cenderung demikian. Bagi saya, ini yang menjadi pangkal permasalahan kenapa masyarakat muslim Indonesia begitu “gila” akan akhirat dan pahala, karena begitu sempit memaknai Islam yang dianutnya. Padahal jika kita mengkaji asal muasal Islam turun bahwa intinya Islam yang dibawa Muhammad merupakan Rahmatan Lil Alamain—rahmat bagi semua—enta...

Short AU: Bukan Minke dan Annelies

         Aku lupa kapan pertama kali kita bertemu, dalam sebuah ruang dan waktu yang memang sudah ditakdirkan oleh sang Kuasa. Aku hanya mengingat ketika seorang teman menyebut namamu dalam bingkai kekaguman akan tulisanmu. Dia menyebutmu sebagai guru dengan tindak tandukmu yang menurutnya begitu luar biasa.       “Aku suka si Andy, dia mengajariku bagaimana cara membaca yang benar dan kau tahu Andy tidak pernah mengejekku atau yang lain perihal tulisanku, pendapatku, atau bicaraku, dia selalu merendah,” jelas Fauzi dengan semangatnya.          Aku yang belum tahu tentangmu pun hanya bisa menganguk dan sesekali menjawab “oh apakah begitu zi”. Jawab ku singkat dengan memasang mimik muka yang terlihat antusias, bibirku tersenyum. Dan sejak saat itu aku mulai penasaran dan mencari tahu tentangmu. Aku diam-diam membuka akun sosialmu, membacai tiap tulisan yang kamu post di salah satu website pribadimu, dan sedikit-s...

Sebuah Tanya

Jika beragama tidak bisa membuat kita lapang dada. Jika beragama tidak bisa membuat kita menerima perbedaan. Jika beragama membuat kita terlalu berlebihan. Jika beragama buat kita makin binal. Jika beragama buat kita kafir-kafiran. Jika beragama buat kita makin mudah memaki orang. Jika beragama membuat kita menjauhi apa yang namanya itu kasih sayang. Jika beragama makin buat kita terpolarisasi, semu dalam duniawi. Jika beragama makin buat kita 'buta". Jika beragama makin buat kita berjarak dengan segalanya. Jika beragama makin buat kita hanya mengingat Tuhan semata. Dan jika beragama hanya membuat orang lupa dengan arti kalimat "kita itu sama-sama ciptaan yang maha Kuasa". Jika beragama hanya pemahaman tekstual semata. Lupa kanan-Lupa Kiri. Selalu keatas-abai ke bawah. Jadi, gunakah aku, kamu, kalian beragama?

Sekat

          Libur tiga hari menjadi parcel yang indah ditengah tugas yang menggeliat ingin disentuh. Libur itu rencanya aku gunakan untuk menggerjakan tugas-tugas kuliah sembari menyelesaikan bacaan buku yang masih tersisa beberapa lembar bab lagi. Namun, rencana yang tertulis di angan hingga bunga tidurku, urung terlaksana karena kemalasan dan sakit mata yang mendera. Tiba waktu liburan yang bakal habis. Tugas tak terjamah. Untungnya novel Pram yang berjudul Rumah Kaca hampir aku selesaikan. Aku membacanya sekitar 4 jam dengan ditemani secangkir kopi hitam pekat dan alunan musik 2000-an. Sore hingga malam itu terasa sungguh mengasikan.           Derum kendaran, derap kaki yang berlalu lalang di kosan tak menyurutkan atau menganggu aku dengan bacaanku, dunia serasa sudah milikku dengan Pangemanann—tokoh dalam novel Rumah Kaca. Membacai tiap bab rumah kaca buat pikiran, hati, dan perasaan ini campur aduk, dihajar oleh nurani dan kalu...

Buku bagus : Ekonomi Politik Kolonialisme

Kali ini, saya tidak lagi membuat puisi-puisi kegundahan hati atau puisi tentang bejatnya negeri ini. Namun, saya akan mengulas buku dari mbak Hesti Hasanah tentang ekonomi politik kolonialisme.             Industri gula menjadi salah satu industri yang paling menguntungkan dan penting ketika zaman kolonial Belanda. Banyak sekali pabrik-pabrik gula yang berdiri ketika itu khususnya di pulau Jawa, salah satu pabrik gula yang bisa dikatakan besar dan menjadi sumber keuntungan melimpah oleh Belanda yakni Pabrik Gula milik Mangkunegaran.             Mangkunegaraan adalah wilayah kekuasaan yang berbentuk praja/kerajaan kecil dan kadipaten besar. Sebelumnya, Mangkunegaran merupakan bagian dari kasunanan Surakarta kemudian menjadi kerajaan mandiri yang patut disegani karena memiliki Legiun/tentara. Dampak politik kemandirian Mangkunegaran menjadi keuntungan bagi pemerintah Belan...